Sebagai seorang credit analysis untuk nasabah korporasi, the biggest perk of my job is:
- call visit bahasa formal perbankannya,
- perjalanan dinas bahsa umumnya,
- keluar dari kubikel nista kalau bahasa saya :)).
Dan ngga tau ya buat 'banker tuan putri' ato 'para ibu (yang merasa) baik karena bisa salsa siang siang because she's stay at home mom tapi bisa duduk di Business Class kalo naik LORENA ' *wink*
Buat saya khususya berada di tengah hutan di Sumatra Selatan untuk melihat pertambangan minyak atau pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan atau bahkan menginap di tengah-tengah per kebun Sawit di Sumtara Utara memberikan pengalaman seru tersendiri.
Ya perjalanannya, kuliner yang ditemui selama perjalanan, atau pengamatan singkat strata sosial yang ada disana menjadikan saya 'kaya' dalam artian sendiri. Lebih dari slip bonus saya :))
*hush, nyindir melulu*
Yang lebih seru lagi, mengunjungi anjungan minyak lepas pantai! Wah, tampaknya selain petroleum engineer susah bagi orang awam untuk kesana, bukan? Lokasi yang saya sebut jelas bukan daerah tujuan wisata. hahahhaaaa
Karena fotografi juga hobi saya, saya kadang-kadang mencuri waktu untuk "sight- seeing" kota yang saya singgahi.
Biar badan letih lu
ar biasa pulang dari daerah pertambangan batu bara, saya bela-belain bangun sebelum subuh untuk menyisir Sungai Barito melihat aktivitas pasar terapung. Semburat fajar yang baru merekah dengan alas langit bewarna biru yang saya foto di sungai tersebut menjadi foto favorit saya sampai saat ini.Pssttt...untuk mencapai lokasinya pun saya tidak perlu menyewa taxi hotel, pihak klient meminjamkan mobilnya. Beberapa nasabah juga malah menawarkan mampir di 'point of interest ' suatu kota ketika mereka melihat DSLR saya.
Dari seluruh perjalan dinas ke tempat-tempat yang tidak biasa, salah satu yang berkesan adalah perjalanan ke Pulau Matak.
Menyebut lokasinya saja banyak rekan saya bertanya "dimana tuh?"
Pulau yang termasuk Kepulauan Anambas --- disebelah utara republik ini --- dan punya potensi alam luar biasa. Saat ini sebagian besar berupa minyak bumi dan perikanan. Tak heran banyak kapal asing suka 'memancing' di sana.
*herannya mereka --- pemilik kapal berbendera non Merah Putih --- kok ngga kapok2x ya....uang tebusan ke aparat Republik ini besar banget kali ya?*
Ceritanya tahun 2008 lalu pergilah saya kesana. Dengan pesawat charteran milik penerbangan lokal, pesawat bertolak dari Pulau Batam dan menempuh perjalanan sekitas 1 jam. Karena landasan di Pulau Matak pendek hanya pesawat kecil yang dapat medarat disitu. Saya saat itu menumpang Foker 50.
Naik pesawat itu saya menjadi satu-satunya perempuan diantara 40-an orang pekerja minyak lepas pantai dan menasbihkan diri sendiri menjadi penumpang paling cantik (yah, ada siy 2 pramugari lain, tapi kan mereka pramugari bukan penumpang,
Setengah jam setelah lepas landas terasa perubah yang signifikan, langit yang tiba2x cerah berubah gelap, hujan...dan petir.
Turbulence? Pastinya...
It was the worst travelling by air for me.
(I've been to 1/5 th of this globe, so self claimed kalo pengalaman berpesawat nampaknya bisa acceptable) :)).
Berkat kometar singkat kolega saya, di pesawat pada saat kejadian saya mendapat implementasi langsung dari sebuah kata bernama 'pasrah dan tawakal'.
Ceritanya saking takunya dan keras guncangan di pesawat plus keadaan di luar yang gelap dan hujan saya serta merta membangunkan teman saya yang tertidur pulas. Saat itu perut saya muallllllll luar biasa, (sampai harus bolak balik ke toilet dan terjatuh disana karena kerasnya guncangan) plus memikirkan kemugkinan yang tidak-tidak.
Teman saya berkomentar pendek :
"loe mau gimana lagi,emang? Gedor2x pintu pesawat?"
Jiah....saya hanya diam dan berpengangan kursi pesawat.
Ketakutan yang berlangsung sekitar 25 menit itu- 25 menit terlama dalam hidup saya-- terbayar ketika saya sampai ke Pulau Matak.
I'm in heaven!!!! Walaupun saat itu langit mendung (dan saya dalam rangka dinas bukan liburan), saya tetap bisa merasakan ambience pulau itu, duh...gimana kala hari cerah. Indah luar biasa, pada kedalaman 10 meter anda masih bisa melihat dasar laut.Subhanallah....ingin rasanya berenang di laut Cina Selatan...:)).

Ketika ingin kembali ke Pulau Batam, saya kembali was was. Perjalan pun sebenarnya tertunda hampir 2 jam karena cuaca buruk.
Baling2x foker 50 hanya sebelah kanan yang berputar
'Kalo pesawat baling2x emang yang kanan dulu mutar baru yang kiri' kata Pak Jauhar dari pihak klien menenangkan.
Fiuh....
Sesampainya di Pulau Batam, salah satu kolega menelfon dan menanyakan kabar kami
'Si Kiky dah khatam tuh Quran-nya doanya, sibuk komat kamit aja tadi di pesawat' kata Dana, teman saya yang tertidur pulas di pesawat tadi.
Bweh....
Selesaikan cerita di Pulau batam, saya juga melawat ke pulau seberang besoknya ;).
Setahun kemudian, saya kembali dipertemukan dengan pihak klien.
Setelah membahas rescheduling kredit dan printilan administrasinya, Pak Jauhar berucap:
" kapan ky, mau ke Matak lagi?"
"Hahahah, ayo aja pak..tapi naik pesawatnya itu lho."
"Eh,tau ngga? pesawat yang kita tumpangi kemaren udah dicabut ijin operasinya sama DepHub dua bulan abis kita dari sana. Kondisi pesawat dinilai tidak layak terbang"JEDDDEEERRRRRRRRRRR!!!!!!!




